PENGERTIAN KECELAKAAN AKIBAT KERJA

Image result for penerapan k3 di perusahaan pertambangan

Kecelakaan akibat kerja yaitu suatu peristiwa yg tidak disangka, tidak diinginkan dan dapat mengakibatkan kerugian baik jiwa ataupun harta benda (Rachman, 1990). Menurut Suma’mur (1989), kecelakaan akibat kerja yaitu kecelakaan yang berhubungan dengan kerja pada perusahaan, artinya kalau kecelakaan kerja terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada saat melakukan pekerjaan.

Urutan Kecelakaan Akibat Kerja Munculnya kecelakaan kerja di pengaruhi oleh beragam aspek, di mana aspek yang satu memengaruhi aspek yang lain, beberapa aspek yang memengaruhi kecelakaan akibat kerja dapat digolongkan seperti berikut.

  • Host, yakni pekerja yang melakukan pekerjaan.
  • Agent, yakni pekerjaan.
  • Environment, yakni lingkungan kerja.

Dari ILCI, dengan memodifikasi teori dari Heinrich yang populer dengan nama teori domino yakni mengenai terjadinya kecelakaan kerja seperti berikut :

1. Kurangnya pada ingindalian oleh manajemen (Lack of Control Management) mencakup :

  • Perencanaan
  • Pengorganisasian
  • Kepemimpinan
  • Pengendalian

2. Penyebab-penyebab basic murni (Basic Couse (s) Origin (s) ) :

  • Aspek personal
  • Aspek Pekerja

3. Penyebabnya yang disebut beberapa gejala (Immediate : Cause (s) Simptoms)

  • Unsafe Act yaitu pelanggaran pada prosedur yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
  • Unsafe Condition atau kondisi yang dengan cara segera dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

4. Keterikatan terjadinya kecelakaan (Incident Kontak).

5. Kehilangan orang atau harta (People Proverty Loss).

Aspek Pekerja

1. Umur
Usia memiliki dampak yang penting pada peristiwa kecelakaan akibat kerja. Kelompok usia tua memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk alami kecelakaan akibat kerja dibanding dengan kelompok usia muda karena usia muda memiliki reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi (Hunter, 1975. dari hasil riset di Amerika Serikat disibakkan kalau pekerja muda umur lebih banyak alami kecelakaan dibanding dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja muda umur biasanya kurang memiliki pengalaman dalam pekerjaanya (ILO, 1989).

2. Tingkat Pendidikan
Pendidikan sesorang berpengaruh dalam pola fikir sesorang dalam hadapi pekerjaan yang dipercayakan padanya, jalinan tingkat pendidikan dengan lapangan yang ada kalau pekerja dengan tingkat pendidikan rendah, seperti Sekolah Basic atau bahkan juga tidak pernah bersekolah akan bekerja di lapangan yang memercayakan fisik (Efrench, 1975).

3. Pengalaman Kerja
pengalaman kerja adalah aspek yang bisa memengaruhi terjadinya kecelakaan akibat kerja. Berdasar pada beragam riset dengan meningginya pengalaman dan ketrampilan akan dibarengi dengan penurunan angka kecelakaan akibat kerja. Kewaspadaan pada kecelakaan akibat kerja jadi tambah baik searah dengan bertambahnya umur dan lamanya kerja ditempat kerja yang berkaitan (Suma’mur 1989).

Pekerjaan

1. Giliran Kerja (Shift)
Giliran kerja yaitu pembagian kerja kurun waktu dua puluh empat jam (Andrauler P. 1989). Terdapat dua permasalahan utama pada pekerja yang bekerja dengan cara bergiliran, yakni ketidak dapatan pekerja untuk menyesuaikan dengan system shift dan ketidak dapatan pekerja untuk menyesuaikan dengan kerja saat malam hari dan tidur pada siang hari (Andrauler P. 1989).

2. Type (Unit) Pekerjaan
type pekerjaan memiliki dampak besar pada kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat kerja (Suma’mur, 1989). Jumlah dan jenis kecelakaan akibat kerja tidak sama di beberapa kesatuan operasi dalam suatu sistem.

Aspek Lingkungan

1. Lingkungan Fisik

Pencahayaan
Pencahayaan adalah suatu segi lingkungan fisik yang penting untuk keselamatan kerja. Beberapa riset menunjukkan kalau pencahayaan yang tepat dan sesuai sama pekerjaan akan membuahkan produksi yang optimal (ILO, 1989).

Kebisingan
Kebisingan di tempat kerja dapat berpengaruh pada pekerja karena kebisingan dapat menyebabkan masalah perasaan, masalah komunikasi hingga mengakibatkan salah paham, tidak mendengar isyarat yang didapatkan, nilai ambang batas kebisingan adlah 85 dBa untuk 8 jam kerja satu hari atau 40 jam kerja dalam satu minggu (Suma’mur, 1990).

2. Lingkungan Kimia
Aspek lingkungan kimia adalah salah satu aspek lingkungan yang sangat mungkin penyebabnya kecelakaan kerja. Aspek itu dapat berbentuk bahan baku suatu produks, hasil suatu produksi dari suatu sistem, sistem produksi sendiri maupun limbah dari suatu produksi.

3. Aspek Lingkungan Biologi
Bahaya biologi dikarenakan oleh jasad renik, masalah dari serangga ataupun binatang lain yang ada ditempat kerja. Beragam jenis penyakit dapat muncul seperti infeksi, allergi, dan sengatan serangga ataupun gigitan binatang berbisa beragam penyakit dan dapat mengakibatkan kematian (Syukri Sahap, 1998).

Klasifikasi Akibat Kecelakaan Kerja

Berdasar pada standard OSHA th. 1970, semua luka yang disebabkan oleh kecelakaan dapat dibagi jadi :

1. Perawatan Enteng (First Aid)
Perawatan enteng adalah suatu aksi/perawatan pada luka kecil berikut observasinya, yg tidak memerlukan perawatan medis (medical treatment) meskipun pertolongan pertama itu dilakukan oleh dokter atau paramedis.

2. Perawatan Medis (Medical Treatment)
Perawatan Medis adalah perawatan dengan aksi untuk perawatan luka yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional seperti dokter maupun paramedis. Yang bisa digolongkan perawatan medis terganggunya manfaat badan seperti jantung, hati, penurunan manfaat ginjal dsb.

3. Hari Kerja yang Hilang (Lost Work Days)
Hari kerja yang hilang adalah sehari-hari kerja di mana sesorang pekerja tidak bisa kerjakan semua pekerjaan rutinnya karena alami kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yan dideritanya. Hari kerja hilang ini dapat dibagi jadi dua jenis :

  • jumlah hari tidak bekerja (days away from work) yakni semua hari kerja di mana sesorang pekerja tidak bisa kerjakan setiap manfaat pekerjaannya karena kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yang dideritanya.
  • jumlah hari kerja dengan kesibukan terbatas (days of restricted activities), yakni semua kerja di mana seseorang pekerja karena alami kecelakaan kerja atau sakit akibat pekerjaan yang dideritanya. Untuk ke-2 masalah di atas, terdapat pengecualian pada hari saat kecelakaan atau saat terjadinya sakit, hari libur, cuti, dan hari istirahat.

4. Kematian (Fatality)
Dalam hal semacam ini, kematian yang terjadi tanpa ada melihat waktu yang telah berlalu pada saat terjadinya kecelakaan kerja aaupun sakit yang dikarenakan oleh pekerjaan yang dideritanya, dan saat si korban wafat.

“Kecelakaan tidak terjadi dengan cara kebetulan, tetapi ada penyebabnya” (Achmadi, 1990). ”Kecelakaan akibat kerja sebenarnya dapat dihindari asal ada tekad yang kuat untuk menghindar” (Suma’mur, 1989).

UPAYA PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA
Berdasar pada teori domino effect penyebabnya kecelakaan kerja H. W. Heinrich, maka terdapat beragam usaha untuk menghindar kecelakaan kerja ditempat kerja, diantaranya :

1.Usaha Mencegah Kecelakaan Kerja melalui Ingindalian Bahaya Di Tempat Kerja :

  • Pemantauan dan Ingindalian Keadaan Tidak Aman ditempat kerja.
  • Pemantauan dan Ingindalian Aksi Tidak Aman ditempat kerja.

2. Usaha Mencegah Kecelakaan Kerja melalui Pembinaan dan Pengawasan :

  • Kursus dan Pendidikan K3 pada tenaga kerja.
  • Konseling dan Konsultasi tentang aplikasi K3 berbarengan tenaga kerja.
  • Pengembangan Sumber Daya maupun Tehnologi yang terkait dengan penambahan penerpan K3 ditempat kerja.

3. Usaha Mencegah Kecelakaan Kerja melalui System Manajemen :

  • Prosedur dan Ketentuan K3 ditempat kerja.
  • Penyediaan Fasilitas dan Prasarana K3 dan pendukungnya ditempat kerja.
  • Penghargaan dan Sanksi pada aplikasi K3 ditempat kerja oleh tenaga kerja.

Aktivitas – Aktivitas atau Usaha Keselamatan Kerja

Untuk tingkatkan keselamatan kerja di perusahaan atau ditempat – tempat kerja, maka ILO, (1989) membuat suatu ketetapan, yakni seperti berikut :

  • Ketentuan-peraturan, yakni ketentuan perundangan yang bertalian dengan kriteria kerja umum, rencana –perencanaan, kontruksi, perawatan, pengujian dan penggunaan industri, keharusan entrepreneur dan pekerja, latihan, pengawasan kesehatan kerja, pertolongan pertama pada kecelakaan dan pengujian kesehatan.
  • Standarisasi, yakni penetapan beberapa standard.
  • Pengawasan, yakni pengawasan mengenai dipatuhinya bebrapa ketetapan yang diharuskan.
  • Riset berbentuk tehnis, yang mencakup karakter dan tanda-tanda dari beberapa bahan yang beresiko, penyelidikan mengenai pagar pengaman, pengujian alat pelindung diri. Apakah pakaian dan sepatu safety yang digunakan sesuai standart keamanan dll.
  • Penelitian medis, mencakup mengenai efek-efek fisiologis dan patologis beberapa aspek lingkungan dan teknologis, beberapa kondisi fisik yang menyebabkan kecelakaan.
  • Riset dengan cara statistik, untuk mengambil keputusan beberapa jenis kecelakaan yang terjadi, banyak tentang siapapun, dalam pekerjaan apa, dan apa sebab-sebabnya.
  • Pendidikan, menyangkut pendidikan keselamatan dan kurikulum tehnik, sekolah-sekolah perniagaan atau bebrapa pelatihan pertukangan.
  • Latihan-latihan yakni latihan praktik untuk tenaga kerja, terutama tenaga yang baru, dalam keselamatan kerja.
  • Penggairahan yakni pemakaian bermacam cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menyebabkan sikap untuk selamat.
  • Asuransi, yakni intensif finansial untuk tingkatkan mencegah kecelakaan, misalnya berbentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan
  • Usaha kesehatan pada tingkat perusahaan, yang disebut ukuran utama efisien tidaknya aplikasi keselamatan kerja
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s